Tanak Kaken, Lombok Timur – Agustus 2026
Memasuki musim kemarau tahun 2026, masyarakat pesisir Lombok Timur kembali menantikan salah satu tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu madak. Tradisi madak merupakan kegiatan masyarakat mencari hasil laut ketika air laut mengalami surut jauh, sehingga hamparan pasir, batu karang, dan area pesisir yang sebelumnya tertutup air dapat dijangkau oleh masyarakat.
Bagi masyarakat pesisir Lombok, madak bukan hanya sekadar aktivitas mencari ikan atau kerang, tetapi telah menjadi bagian dari budaya, kebersamaan, dan bentuk rasa syukur atas hasil laut yang diberikan oleh Allah SWT.
Ketika musim madak tiba, masyarakat biasanya turun bersama keluarga, tetangga, maupun kerabat. Anak-anak, orang tua, hingga nelayan ikut menikmati suasana pesisir sambil mencari berbagai hasil laut seperti kerang, gurita, ikan karang, kepiting, siput laut, dan berbagai jenis biota laut lainnya yang terjebak di sela-sela batu karang saat air laut mulai surut.
Lokasi Favorit Masyarakat Melakukan Madak
Di wilayah Lombok Timur bagian selatan, terdapat beberapa lokasi yang sejak lama menjadi tujuan masyarakat untuk melakukan madak, di antaranya: Pantai Ujung,Ujung Ketangga,Batu Nampar, Bagek Batu, Pantai Saung, Telong-Elong, Paremas, Pantai SurgaKawasan pesisir Kecamatan Jerowaru dan Keruak.
Lokasi-lokasi tersebut memiliki hamparan karang dan pesisir yang cukup luas sehingga ketika air laut surut, masyarakat dapat berjalan lebih jauh ke area yang biasanya berada di bawah permukaan air.
Perhitungan Waktu Madak Berdasarkan Peredaran Bulan
Masyarakat pesisir sejak dahulu memiliki pengetahuan lokal dalam menentukan waktu yang baik untuk madak. Salah satu tanda yang diperhatikan adalah peredaran bulan, karena bulan memiliki pengaruh terhadap naik turunnya permukaan air laut.
Secara umum, terdapat dua waktu dalam satu bulan yang biasanya menjadi perhatian masyarakat, yaitu:
1. Saat Bulan Purnama
Ketika bulan terlihat penuh, gaya tarik bulan terhadap bumi menjadi lebih kuat. Kondisi ini dapat menyebabkan perbedaan antara air pasang dan air surut menjadi lebih besar.
Periode ini sering disebut masyarakat sebagai waktu surut besar, sehingga menjadi salah satu waktu yang baik untuk melakukan madak.
2. Saat Bulan Mati (Bulan Baru)
Selain bulan purnama, ketika bulan tidak terlihat atau memasuki fase bulan baru, kondisi pasang-surut juga dapat mengalami perubahan yang cukup besar.
Masyarakat biasanya menghitung sekitar 3–5 hari setelah bulan baru atau sebelum dan sesudah bulan purnama sebagai waktu yang berpotensi menghasilkan surut lebih jauh.
Perkiraan Musim Madak Bulan Agustus 2026
Karena bulan Agustus berada pada musim kemarau, kebiasaan masyarakat Lombok Timur biasanya melakukan madak mulai siang hingga malam hari, berbeda dengan musim hujan yang lebih sering dilakukan pagi hari.
Perkiraan waktu madak berdasarkan pola bulan:
- Awal Agustus 2026 (8–15 Agustus 2026)
- Kondisi: periode mendekati fase bulan mati
- Waktu madak: sekitar siang hingga malam hari
- Perkiraan waktu: 14.00–22.00 WITA
- Potensi: baik untuk mencari kerang, gurita, dan ikan karang
b. Akhir Agustus 2026
- 24–31 Agustus 2026
- Kondisi: mendekati periode bulan purnama
- Waktu madak: sekitar siang hingga malam
- Perkiraan waktu: 14.00–22.00 WITA
- Potensi: kembali menjadi waktu yang banyak dimanfaatkan masyarakat
Menjaga Tradisi dan Kelestarian Laut
Pemerintah Desa Tanak Kaken mengajak masyarakat agar tetap menjaga tradisi madak dengan memperhatikan kelestarian lingkungan laut.
Dalam melakukan madak, masyarakat diharapkan:
- Tidak merusak terumbu karang.
- Tidak menggunakan bahan berbahaya atau alat yang dapat merusak ekosistem.
- Mengambil hasil laut secukupnya.
- Menjaga kebersihan pantai dari sampah.
Laut bukan hanya tempat mencari hasil, tetapi juga merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Tradisi madak menjadi bukti bahwa masyarakat Lombok memiliki hubungan yang erat dengan alam. Dari generasi ke generasi, masyarakat belajar membaca tanda-tanda alam, memahami pergerakan bulan, serta memanfaatkan hasil laut dengan cara yang bijaksana.
Madak bukan hanya mencari hasil laut, tetapi menjaga warisan budaya, mempererat kebersamaan, dan menjadi bentuk rasa syukur masyarakat pesisir atas karunia Allah SWT.
DESA TANAK KAKEN
Informasi Desa dan Kearifan Lokal Masyarakat